Di tengah ritme Jakarta yang serba cepat, kini hadir TAMU, sebuah restoran Indonesia yang menawarkan pengalaman bersantap berbeda. Resmi dibuka pada 1 September 2025, TAMU hadir sebagai ruang yang mengajak kamu untuk melambat sejenak, duduk bersama, dan menikmati makanan sebagai bagian dari percakapan serta kebersamaan. Filosofi “Tatap Muka” menjadi jiwa utama TAMU, di mana makan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang membangun cerita dan kenangan.
.jpg)
Konsep Nostalgia Tapi Dinamis juga terasa kuat pada desain interior TAMU. Sebuah Saka Guru berusia lebih dari lima puluh tahun dipertahankan sebagai elemen utama, menjadi simbol akar budaya yang kokoh. Unsur ini dipadukan dengan desain modern yang bersih dan elegan, menciptakan suasana hangat, akrab, sekaligus segar. Beberapa elemen kayu dari proyek sebelumnya juga diolah kembali, mempertegas komitmen TAMU terhadap nilai keberlanjutan dan cerita masa lalu.
“Kami ingin TAMU menjadi tempat di mana orang bisa bertatap muka, menikmati hidangan, dan membawa pulang cerita,” ujar Co-founder TOMA Group, Hartono Moe. Sejalan dengan visi tersebut, TAMU menyediakan dua ruang privat berkapasitas enam dan 10 orang, serta memungkinkan seluruh area restoran dipesan untuk acara khusus hingga 250 tamu.
.jpg)
Identitas TAMU dirangkum dalam satu konsep besar: Nostalgia Tapi Dinamis. Konsep ini terasa kuat sejak pertama kali kamu melangkah masuk. Akar tradisi dan cita rasa Nusantara dihadirkan sebagai bentuk nostalgia, sementara pendekatan modern dan eksploratif menjadi sisi dinamis yang membuat TAMU relevan dengan masa kini. Perpaduan ini tercermin tidak hanya pada menu, tetapi juga pada desain ruang dan bahasa brand yang digunakan.
Makanan menjadi pusat utama dari pengalaman di TAMU. Salah satu hidangan yang paling merepresentasikan semangat tersebut adalah Konro Pipi Sapi. Jika biasanya konro menggunakan iga, TAMU memilih pipi sapi yang dimasak dengan teknik sous vide untuk menghasilkan tekstur yang lembut dan juicy. Hidangan ini kemudian dipadukan dengan bumbu rempah khas Makassar, menciptakan rasa otentik dengan sentuhan teknik modern yang presisi.
.jpg)
Selain itu, kamu juga bisa menikmati Sambal Goreng Otot, sebuah hidangan personal dari Chef Owner TOMA Group, Alnico Andreas. Menu ini terinspirasi dari kenangan masa kecilnya di Cirebon, yang diolah kembali dengan pendekatan kuliner yang lebih matang. Ada pula Lawar Udang, sajian khas Bali yang dieksplorasi oleh Corporate Chef TOMA Group, Arief Rachman, dengan tambahan ebi dan udang segar untuk memperkaya tekstur serta rasa.
(Baca juga: 5 Rekomendasi Restoran untuk Christmas Dinner di Jakarta)
Ke depannya, TAMU juga berencana menghadirkan menu musiman serta kolaborasi dengan UMKM, komunitas kreatif, dan pegiat budaya. Dengan begitu, kamu akan selalu menemukan pengalaman baru setiap kali berkunjung. Pada akhirnya, TAMU bukan sekadar restoran, melainkan ruang pertemuan yang mengajak kamu menemukan kembali makna sederhana dari meja makan: nostalgia yang terus bergerak secara dinamis.
(Penulis: Sania Zelikha)