Dalam lanskap fashion Asia Tenggara yang semakin percaya diri, pilihan lokasi kerap menjadi bagian dari pernyataan kreatif. Tahun ini, Modinity Fashion Parade 2026 mengambil langkah istimewa dengan menggelar perhelatan di kawasan Candi Borobudur. Keputusan tersebut memperlihatkan kecenderungan baru: fashion tidak lagi berdiri terpisah dari konteks sejarah dan budaya, melainkan berupaya berdialog secara langsung dengannya.

Digagas oleh Modinity Group, ajang tahunan ini mempertemukan brand-brand dalam satu ekosistem yang sama. Alih-alih menonjolkan satu nama, format kolektif yang diusung memberi gambaran tentang bagaimana model bisnis fashion regional berkembang, membangun jaringan lintas kategori, dari busana hingga kecantikan, dalam satu platform terpadu.
_11zon.jpg)
05.1_11zon.jpg)
Tema “Infinite Wonders” menjadi benang merah yang merangkai enam label dengan pendekatan desain yang berbeda: Buttonscarves, Benang Jarum, Nada Puspita, Zyta Delia, CALLA, serta Rizman Ruzaini. Masing-masing membawa karakter yang telah dikenal publik, namun disusun dalam alur runway yang berkesinambungan, menciptakan narasi tentang keberagaman dalam satu spektrum modest-modern.
_11zon.jpg)
Secara visual, pendekatan yang terlihat tahun ini cenderung terukur. Struktur siluet tetap menjadi fondasi, dengan eksplorasi pada tekstur, motif, dan permainan detail sebagai pembeda. Buttonscarves menekankan presisi pada konstruksi dan ornamentasi yang terkendali. Benang Jarum dan Nada Puspita memusatkan perhatian pada koleksi Raya dengan eksplorasi print, floral, dan palet warna yang merefleksikan suasana perayaan. Zyta Delia bergerak ke arah bentuk yang lebih arsitektural dan fungsional, sementara CALLA mempertahankan identitas playful melalui motif bunga dan komposisi warna yang ekspresif. Kehadiran Rizman Ruzaini menambah perspektif regional dengan pendekatan couture yang kuat pada storytelling dan craftsmanship.

Menariknya, perhelatan ini juga menyoroti peran komunitas dalam pertumbuhan brand. Kehadiran pelanggan dari berbagai kota menunjukkan bahwa relasi antara label dan konsumennya tidak lagi bersifat transaksional, melainkan berbasis kedekatan jangka panjang. Dalam konteks ini, fashion show berfungsi sebagai ruang temu, bukan hanya panggung presentasi.

(Baca juga: 6 Inspirasi Gaya Old Money yang Elegan)

Elemen kecantikan yang ditangani oleh Buttonscarves Beauty turut memperlihatkan bagaimana makeup diposisikan sebagai bagian integral dari keseluruhan tampilan, bukan sekadar pelengkap. Pendekatan ini mencerminkan kecenderungan industri yang semakin melihat fashion sebagai pengalaman multidisipliner.
Modinity Fashion Parade 2026 pada akhirnya dapat dibaca sebagai refleksi atas dinamika fashion Asia Tenggara hari ini: terorganisasi dalam ekosistem yang solid, berakar pada budaya lokal, namun dengan aspirasi regional yang jelas. Di tengah kompetisi global yang semakin terbuka, pendekatan kolektif semacam ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat posisi dan identitas kawasan dalam percakapan mode internasional.
