Dalam beberapa tahun terakhir, modest fashion Indonesia menunjukkan pergeseran yang signifikan: dari sekadar kategori busana religius menjadi bagian integral dari lanskap luxury dan lifestyle. Presentasi terbaru Si.Se.Sa. di The Langham Jakarta memperlihatkan bagaimana busana syar’i terus beradaptasi, tidak hanya melalui eksplorasi material dan detail, tetapi juga melalui cara ia memaknai kebutuhan wanita Muslim modern yang semakin multidimensional.
Melalui perhelatan tahunannya, Si.Se.Sa. menghadirkan lebih dari 100 look dalam tema "The Kaleidoscope", sebuah kerangka konseptual yang menyoroti keberagaman kebutuhan wanita Muslim masa kini. Alih-alih memosisikan koleksi sebagai eksplorasi tren semata, rumah mode ini menyusunnya sebagai studi tentang bagaimana prinsip syar’i yang konsisten dapat diterjemahkan ke dalam spektrum estetika yang luas, dari kasual hingga formal, dari minimal hingga ornamentatif.

(Baca juga: Tampil Anggun, Ini 5 Rekomendasi Heels Lokal untuk Lebaran)

Koleksi kali ini tidak berupaya merombak siluet dasar modest wear. Potongan A-line dan klok yang longgar, tidak transparan, serta dipadukan dengan khimar dalam berbagai proporsi tetap menjadi fondasi. Pendekatan ini menunjukkan konsistensi terhadap DNA desain mereka. Yang berkembang justru ada pada pengolahan detail: pleats yang presisi, bordir tangan yang terkontrol, serta aplikasi kristal Swarovski dari Austria yang ditempatkan sebagai aksen, bukan pusat perhatian. Hasilnya adalah tampilan yang tetap elegan tanpa terasa berlebihan.
Pada lini kasual, eksplorasi material menjadi sorotan. Katun, flanel, hingga denim dihadirkan dalam pendekatan yang lebih ringan dan fungsional, dengan palet pastel dan warna cerah yang memberi kesan segar. Sementara itu, lini formal memanfaatkan chiffon, crepe, brokat, hingga jacquard untuk membangun struktur yang lebih refined, dengan permainan hitam dan emas yang menghadirkan kesan tegas namun tetap dalam koridor syar’i.

Koleksi ini juga memuat seri yang mengadaptasi motif keffiyeh ke dalam desain abaya dan khimar. Kehadiran elemen tersebut memberi dimensi sosial pada runway, menunjukkan bahwa busana dapat berfungsi sebagai medium ekspresi nilai dan solidaritas.
Pendekatan serupa terlihat dalam koleksi keluarga untuk Idulfitri yang mengangkat tenun Aceh dan Sumatera Barat. Wastra Nusantara diolah dalam siluet modern melalui outerwear kontemporer dan layering brokat, tulle, organdi, serta satin. Langkah ini memperlihatkan bagaimana tradisi dapat diintegrasikan ke dalam gaya hidup urban tanpa kehilangan relevansinya.
(Baca juga: 7 Inspirasi OOTD Kondangan Simple & Elegan agar Percaya Diri)

Salah satu momen yang mencuri perhatian adalah eksplorasi motif monogram khas rumah mode ini. Dalam nuansa cokelat, marun, hingga pastel lembut, motif tersebut tampil dengan efek timbul menyerupai 3D, memberi kedalaman visual yang hampir arsitektural. Ia terasa seperti upaya mendefinisikan kembali identitas brand dalam bahasa yang lebih kontemporer, tanpa meninggalkan basis loyal konsumennya.
Runway malam itu juga diperkuat kehadiran sejumlah figur publik yang merepresentasikan karakter koleksi. Paula Verhoeven tampil dalam balutan velvet dengan cape panjang berbordir, memancarkan aura regal yang terkendali. Hamidah Rachmayanti membawakan nuansa shimmering nude brown yang lembut dan refined, sementara Celine Evangelista menghadirkan interpretasi glamor-syar’i lewat tulle berkilau dengan siluet flowy yang kuat sekaligus feminin.
Didirikan pada 2011 oleh tiga bersaudari, Siriz Tentani, Senaz Nasansia, dan Sansa Enandera, putri desainer Merry Pramono, brand ini memang telah lama memosisikan diri sebagai pionir busana muslim syar’i premium di Indonesia. Namun yang lebih relevan hari ini adalah bagaimana mereka membaca perubahan zaman: bahwa wanita Muslim modern tidak lagi berdiri dalam satu warna tunggal.
The Kaleidoscope pada akhirnya bukan sekadar tema, melainkan cermin. Ia memantulkan kenyataan bahwa modest fashion Indonesia telah tumbuh menjadi ruang dialog, antara iman dan gaya hidup, antara lokalitas dan globalitas, antara kelembutan dan kekuatan. Dan di sanalah, di antara kilau kristal dan jatuhnya kain yang anggun, wanita menemukan caranya sendiri untuk bersuara.
