Pernahkah kamu bertemu seseorang yang awalnya terlihat dekat dan perhatian, tetapi perlahan mulai menjaga jarak ketika hubungan semakin serius? Perilaku tersebut terkadang berkaitan dengan pola avoidant attachment, yaitu kecenderungan seseorang untuk menghindari kedekatan emosional atau merasa kurang nyaman ketika harus bergantung pada orang lain.
Pola ini dapat memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, mengungkapkan perasaan, dan menghadapi konflik.
Avoidant attachment adalah salah satu pola keterikatan emosional yang dapat memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan romantis. Seseorang dengan pola ini cenderung merasa kurang nyaman ketika harus terlalu dekat secara emosional dengan pasangan. Akibatnya, mereka mungkin terlihat mandiri, menjaga jarak, atau kesulitan mengungkapkan perasaan.
Pola keterikatan ini dapat terbentuk dari berbagai pengalaman hidup, termasuk hubungan dengan pengasuh pada masa kecil maupun pengalaman romantis sebelumnya. Namun, tidak semua orang yang membutuhkan ruang pribadi memiliki avoidant attachment.
Berikut beberapa tanda yang dapat kamu kenali dalam hubungan.

Seseorang dengan kecenderungan avoidant attachment mungkin merasa kesulitan membicarakan emosi, terutama ketika percakapan menyangkut kerentanan, ketakutan, atau kebutuhan emosional. Mereka bisa memilih menyimpan perasaan sendiri daripada menceritakannya kepada pasangan.
Jika kamu menghadapi situasi ini, penting untuk memahami bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosi. Meski demikian, komunikasi tetap diperlukan agar hubungan dapat berkembang dengan sehat.
Ketika hubungan mulai semakin serius, seseorang dengan pola keterikatan ini mungkin merasa tidak nyaman. Mereka bisa menjadi lebih pendiam, mengurangi intensitas komunikasi, atau membutuhkan lebih banyak waktu sendiri.
Kedekatan emosional yang meningkat terkadang dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kemandirian mereka. Namun, perilaku tersebut tidak selalu berarti seseorang kehilangan ketertarikan kepada pasangannya.

Kemandirian merupakan hal yang positif. Akan tetapi, seseorang dengan kecenderungan avoidant attachment dapat merasa sulit menerima bantuan atau dukungan emosional dari pasangan.
Mereka mungkin terbiasa menyelesaikan masalah sendiri dan menganggap ketergantungan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Akibatnya, pasangan bisa merasa tidak dilibatkan dalam kehidupan mereka.
Saat menghadapi perselisihan, mereka mungkin memilih diam, mengalihkan pembicaraan, atau menjauh untuk menghindari ketidaknyamanan emosional. Cara ini dapat memberikan ruang sementara, tetapi masalah yang tidak dibicarakan berisiko menumpuk.
Jika kamu mengalaminya, cobalah membangun komunikasi secara bertahap dan menyepakati waktu yang nyaman bagi kedua pihak untuk membahas persoalan.

Permintaan untuk lebih sering berkomunikasi, menunjukkan kasih sayang, atau membicarakan masa depan terkadang terasa membebani bagi seseorang dengan pola keterikatan ini.
Mereka mungkin menafsirkan kebutuhan emosional pasangan sebagai tekanan, meskipun kebutuhan tersebut sebenarnya wajar dalam hubungan. Karena itu, penting untuk membicarakan batasan dan harapan masing-masing.
Sebagian orang dengan kecenderungan avoidant attachment membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun kepercayaan. Mereka mungkin enggan menunjukkan sisi rentan karena khawatir akan terluka, ditolak, atau kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri.
Membangun rasa aman membutuhkan proses, komunikasi terbuka, dan konsistensi dari kedua belah pihak.
(Baca juga: Cara Menghadapi Pasangan yang Memiliki Avoidant Attachment)
Mengenali tanda-tanda avoidant attachment dapat membantu kamu memahami dinamika hubungan dengan lebih baik. Namun, beberapa perilaku di atas tidak cukup untuk memastikan pola keterikatan seseorang. Jika pola tersebut terus menimbulkan kesulitan, konseling profesional dapat membantu kamu dan pasangan membangun hubungan yang lebih sehat.
(Penulis: Sania Zelikha)