ARTJOG 2025 kembali menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan ekosistem seni melalui pemutaran dua film dokumenter inspiratif yang mengangkat tokoh-tokoh penting dalam dunia seni dan budaya. Bertajuk Jagad’e Raminten (Raminten Universe) sebuah karya Nia Dinata dan Bisikan Terumbu garapan Arfan Sabran, film-film ini ditayangkan di panggung performa ARTJOG sebagai bagian dari program Motif: Amalan.
Jagad’e Raminten menggambarkan sosok mendiang Hamzah Sulaiman, pendiri dunia Raminten, yang tak hanya dikenal sebagai pebisnis sukses, tapi juga pelopor ruang aman dan inklusif lewat Raminten Cabaret di Yogyakarta. Memotret perjalanan sang pendiri, film ini secara khusus menggambarkan bagaimana sosoknya mengedepankan nilai kemanusiaan dalam membangun dunia Raminten, termasuk membina keluarga besar yang di dalamnya termasuk karyawan, penampil pertunjukan, dan para sahabat dekat. Film ini juga menjadi persembahan terakhir dari keluarga dan sahabat untuk mengenang nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh Hamzah Sulaiman.
(Baca juga: Ada 5 Gerakan Yoga Wajah Agar Terlihat Simetris, Penasaran?)
“Melalui Raminten, kita belajar bahwa ketulusan dan penerimaan terhadap perbedaan dapat tumbuh menjadi kekuatan yang memperkuat rasa kemanusiaan. Melalui film ini juga kami bersama seluruh keluarga dan sahabat hendak memberikan penghormatan pada almarhum Hamzah Sulaiman. Sungguh sebuah kehormatan besar bagi kami dapat membawa kisahnya ke mata dunia, ”ujar Nia Dinata.

Tak hanya menyentuh pengunjung lewat Raminten Universe, ARTJOG juga menayangkan Bisikan Terumbu, dokumenter yang menceritakan proyek seni bawah laut ARTificial Reef yang digagas maestro seni rupa Teguh Ostenrik. Selama lebih dari satu dekade, ia menciptakan instalasi patung bawah laut yang bertujuan mempercepat pertumbuhan terumbu karang di berbagai perairan Indonesia.
Salah satu karya dalam proyek ini yang berjudul Domus Frosiquilo (Daun Khatulistiwa), pada tahun 2019 sempat dipresentasikan dan menjadi projek istimewa ARTJOG MMXIX-Arts in Common: common|space. Karya ini kemudian ditenggelamkan di dasar perairan Pantai Jikomalamo, Ternate, Maluku Utara, untuk mendukung keberlangsungan ekosistem bawah laut di sana.
“Saat saya melihat padang pasir di dasar laut tempat seharusnya terumbu karang hidup, saya merasa seperti kehilangan bagian dari diri saya sendiri. Saya sadar, seni yang saya buat tidak bisa hanya menggantung di dinding. Sebuah karya itu harus menyatu dengan kehidupan, memberi manfaat bagi alam dan masyarakat,” tegas Teguh Ostenrik.
Kedua film ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berkaitan dengan ekspresi estetik, tapi juga bisa menjadi medium refleksi sosial dan ekologis. Buat kamu yang belum sempat ke sini, jangan khawatir! ARTJOG 2025 masih berlangsung hingga 31 Agustus di Jogja National Museum, dengan berbagai program pendukung lain seperti Exhibition Tour, Meet the Artist, dan Love ARTJOG.
(Penulis: Zahrah Pricila)