Woman Now

Perjuangan Perempuan Hebat Temukan Kembali Cantiknya

By : Vanessa Masli - 2025-10-29 10:00:01 Perjuangan Perempuan Hebat Temukan Kembali Cantiknya

Banyak perjalanan yang harus ditempuh, perjuangan yang terus berlanjut bagi para penyintas kanker payudara. Tak hanya kesehatan yang terganggu, tetapi juga penampilan yang berubah. Dalam rangka memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara Sedunia, Natasha Skin Care Clinic Center menghadirkan sebuah kampanye bertajuk "Rediscover Your Beauty". 

Gerakan ini mempertemukan Her World Indonesia dengan 12 perempuan penyintas kanker payudara yang berbagi cerita tentang perjuangannya pulih dari kanker payudara dan perlahan kembali menemukan makna cantik serta kepercayaan diri masing-masing. Simak kisah inspiratif para perempuan di bawah ini.


Tati Muhdi, 71



(Tati Muhdi, 71 tahun.)


Seorang instruktur senam aerobik pada usia 30-an, seorang perempuan yang sadar betul untuk menjaga kesehatan tubuh dengan rutin berolahraga. Namun, dalam mimpi dan doa, ia diberi sinyal bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Sebuah benjolan di area payudara - yang kemudian didiagnosa sebagai kanker payudara stadium 3B - menjadi awal perubahan hidup Tati Muhdi.


Mulai dari operasi hingga radiasi berkali-kali, proses hidup ini justru mendekatkan Tati dengan Allah. Ia menempuh studi jurusan Dakwah Islam dan sepanjang hidupnya bersama kanker, Tati terus berserah serta ingin bermanfaat bagi orang lain.


“Kalau kita minta sungguh-sungguh, pusatkan energi [pada Tuhan], makan akan dikabulkan,” ungkap Tati kepada Her World Indonesia. Ia percaya betul bahwa penyakit akan kehilangan kekuatan dalam diri seseorang saat ia memenuhi pikiran dan hatinya dengan hal-hal positif


OLEH VANESSA MASLI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS IEN (@STUDIOMAKEUPIEN) TATA RAMBUT KIKIE (@KIKIE_KHANSA) BUSANA BLZR.ID, NILA BAHARUDDIN AKSESORI NJS GOLD


Hartati Sembiring, 57



(Hartanti Sembiring, 57 tahun)


Perjuangannya melawan sel-sel kanker dalam tubuhnya masih berlanjut hingga hari ini. Sejak pertama kali didiagnosa alami kanker payudara, Hartati Sembiring menyelami lika-liku dalam pengobatannya. Diawali operasi pengangkatan payudara pada 2019, kemudian pada 2023, hasil USG menunjukkan metastase sel kanker ke tiga titik tulang dalam tubuhnya, dan pada 13 Oktober kemarin, Hartati baru saja melakukan bone scan untuk evaluasi setelah rutin konsumsi obat kemoterapi selama dua tahun.


Meski konsumsi obat kemoterapi mengubah penampilannya, Hartati justru hadir dengan senyum paling lebar dan semangat besar. Dukungan dan cinta dari keluarga, komunitas, dan bahkan tenaga medis yang merawatnya menjadi kekuatan Hartati untuk tidak hanya pulih tetapi juga menjalankan hidup dengan rasa percaya diri yang besar.


”Sebenarnya begini, onderdil tubuh saya sudah habis, tetapi saya merasa Tuhan itu selalu kasih sesuatu yang baru bagi saya,” ungkap Hartati. Ada masanya ia menangis, tak jarang harus menahan rasa sakit yang luar biasa untuk sembuh, tetapi rasa syukur menjadi kunciannya bertahan dan berjuang.


OLEH VANESSA MASLI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS IEN (@STUDIOMAKEUPIEN) TATA RAMBUT MAE (@MAELORAMEKUP) BUSANA WILSEN WILLIM AKSESORI NJS GOLD


Indah Ismiyati, 62 


(Indah Ismiyati, 62 tahun)


Tahun 2005, Indah Ismiyati pertama kali didiagnosa kanker payudara stadium 2B. Rutin mengonsumsi obat kemoterapi selama lima tahun dan melakukan pemeriksaan rutin hingga dinyatakan remisi pada 2016.


Namun, pada tahun 2024, sel kanker kembali menyerang lebih ganas. Kemoterapi dan radiasi setiap hari ia lakukan hingga hari ini, saat bertemu Her World. Berat badan menurun, kulitnya menghitam, tetapi tak menyurutkan rasa percaya diri Indah. Banyaknya dukungan dan cinta dari orang-orang tersayang serta komunitas, Indah pun memeluk erat setiap proses pengobatan yang ia lalui.


“Harus happy [menjalani pengobatan], harus menikmati hidup,” ungkap Indah. Hidup terus berlanjut, pengobatan tetap berlangsung, tetapi Indah konsisten semangat untuk menjalankan setiap prosesnya hingga hari ini.


OLEH VANESSA MASLI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS IEN (@STUDIOMAKEUPIEN) TATA HIJAB KIKIE (@KIKIE_KHANSA) BUSANA NILA BAHARUDDIN AKSESORI NJS GOLD


Firsa Vellasari, 57



(Firsa Vellasari, 57 tahun)


Perjuangan satu dekade yang belum usai bagi Firsa Vellasari Pertama kali didiagnosa pada akhir 2014, ia melalui berbagai pengobatan. Mulai dari dua kali operasi di tahun 2015, kemudian mengangkat indung telur pada 2017, sempat relapse pada tahun 2020 dan sampai hari ini, masih melakukan proses pemeriksaan rutin setiap tahun.


Pada 2017, Firsa pun mengabdikan diri untuk melayani sesama pejuang kanker payudara dengan bergabung dalam komunitas. Ia terlibat dalam tim skuad yang memberikan penyuluhan terkait kesehatan payudara, melakukan skrining, serta USG payudara kepada masyarakat luas, selagi ia juga berjuang.


Tidak mudah, penuh liku dan air mata, tetap semangatnya tidak pernah surut, Firsa terus berjuang merawat dan menjaga diri demi ketiga buah hati yang ia besarkan seorang diri. “Di tengah kelemahan kita, ada kuasa Tuhan yang terlihat dan dia bekerja dengan dahsyat dalam hidup kita. Harus disyukuri, dijalani dengan ikhlas, berserah, dan bahagia,” ungkap Firsa.


OLEH VANESSA MASLI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS MAE (@MAELORAMAKEUP) TATA RAMBUT ANTO (@ANTO_CIMPRING) BUSANA NILA BAHARUDDIN, WILSEN WILLIM AKSESORI NJS GOLD


Deayu Anugraha, 40



(Deayu Anugraha, 40 tahun)


Deayu Anugraha, membagikan kisah perjuangannya yang penuh liku dengan kanker payudara. Awalnya, ia sempat mengabaikan benjolan kecil di awal 2023, hingga akhirnya gejala memburuk dan vonis kanker payudara stadium 3B datang menjelang akhir tahun. Proses pengobatan yang harus dilalui tidaklah ringan, mulai dari kemoterapi, operasi, radiasi, dan terapi lanjutan. Bahkan, di tengah perjalanan, sel kanker sempat menyebar (metastasis) ke otak dan tulang, memaksanya kembali menjalani kemo dan radiasi.


Namun, di balik cobaan yang berat ini, Deayu menemukan sumber kekuatan yang tak terbatas. "Pertamanya sih saya down sekali saat tahu, tapi setelah saya mengetahui tentang penyakitnya, jadi saya tahu knowledge is power kan ya. Apalagi saya punya anak, masih kecil-kecil dan habis itu saya ada suami yang jadi support system buat diri saya kuat. Jadi saya bisa kuat, dan survive buat mereka," ungkap Deayu dengan nada tulus, menunjukkan betapa pentingnya peran keluarga sebagai jangkar dalam badai.


Baginya, rasa percaya diri tidak luntur karena pandangan orang lain, melainkan muncul dari penerimaan diri dan afirmasi positif. Ia juga menekankan bahwa pola hidup sehat seperti menjaga makan dan berolahraga sangat esensial, tetapi mengingatkan bahwa segala sesuatu yang berlebihan juga tidak baik, termasuk saat ia terlalu over berolahraga setelah sempat dinyatakan remisi hingga akhirnya kankernya kembali.


Deayu berpesan, "Tak usah mendengarkan kata-kata dari orang lain. Kita harus menerima, bahwa diri kita sekarang lagi ada kanker. Stop asking why dan jalanin pengobatannya. Karena kita perempuan, kita kuat!"


OLEH DEANISHA OKTAVIANI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS DANIELLA KESYA (@DANIELLAKESYA) BUSANA JULIANTO AKSESORI NJS GOLD


Yanni, 45


(Yanni, 45 tahun)


Perjalanan panjang Yanni dimulai pada tahun 2016, ketika ia merasakan ada benjolan yang ia kira hanya bisul. Namun, setelah diperiksa, benjolan seukuran bakso itu ternyata adalah kanker yang sudah berkembang dan mengeluarkan cairan sehingga ia harus menjalani operasi pertama. Tantangan muncul lagi dua tahun berselang, di tahun 2018, dengan kemunculan benjolan baru.

Yanni menjelaskan kunci untuk melewati masa-masa sulit pengobatan adalah dengan memelihara semangat positif dan dukungan dari orang terdekat. "Ya dibawa happy saja lah, jangan terlalu stres. Ikutin perintah dari dokter atau ahlinya," tuturnya, menekankan pentingnya kepatuhan pada saran medis sembari menjaga suasana hati. Keluarga memberikan semangat tak henti, sementara komunitas membantunya berbagi ilmu dan pengalaman dengan sesama penyintas.


Meskipun harus menghadapi perubahan fisik, termasuk kehilangan kedua payudara, Yanni tidak kehilangan rasa percaya dirinya. Justru ia memilih untuk menerima diri dan tampil apa adanya. Berkat komunitas, ia pun terbantu mendapatkan payudara buatan (prostetik). Tantangan setelah pengobatan, seperti rasa letih akibat radiasi, ia hadapi dengan disiplin menjaga pola makan, rajin minum vitamin, dan rutin jalan pagi. Bagi para perempuan yang sedang berjuang menemukan kembali cantik mereka, Yanni memiliki pesan yang kuat. "Percaya diri, dibawa happy, jangan stress, tetap rutin kontrol. Jangan makan sembarangan." Pesan ini menegaskan bahwa cantik sejati berasal dari kekuatan mental, kedisiplinan, dan ketenangan hati dalam menjalani setiap fase kehidupan.


OLEH DEANISHA OKTAVIANI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS IEN (@STUDIOMAKEUPIEN) TATA HIJAB KIKIE (@KIKIE_KHANSA) BUSANA WILSEN WILLIM AKSESORI NJS GOLD


Rini Hoepoedio, 71



(Rini Hoepoedio, 71 tahun)


Meski sudah bergabung dalam Yayasan Kanker Indonesia sejak lama, Rini Hoepoedio mengakui sempat lalai dalam melakukan deteksi dini. Vonis kanker payudara datang pada usia 57 tahun, berawal dari keisengan (yang ternyata krusial) teman kerja yang memaksanya melakukan pemeriksaan mammografi di kantor pada September 2011.


Hasilnya menunjukkan benjolan berukuran lebih dari dua sentimeter. Rasa takut dan tangis sempat mendominasi selama dua minggu awal, apalagi karena pengetahuannya yang luas tentang penyakit tersebut. Awalnya, ia hanya meminta pengangkatan benjolan saja, tetapi kemudian menyadari bahwa langkah terbaik adalah dengan pengangkatan payudara secara total, yang dilakukan pada 11 November 2011, diikuti dengan enam kali kemoterapi. Keputusan tegas ini diambil setelah berdiskusi dengan dokter dan menguatkan hati.


"Alhamdullilah suami saya sangat mendukung dan begitupun juga keluarga, jadi saya semangat [menjalankan pengobatan]. Bagi kita yang sakit harus semangat, dan itu ada dukungan dari keluarga," ujar Rini, menyoroti betapa dukungan keluarga terdekat adalah fondasi utama bagi para penyintas.


Setelah berhasil melalui masa pengobatan dan dinyatakan remisi, Ibu Rini memilih untuk tampil seoptimal mungkin. Beliau menolak dikasihani dan justru ingin memancarkan energi positif, sebuah semangat yang kemudian menular ke ratusan penyintas di bawah naungannya. Ia percaya bahwa kanker yang dideritanya berasal dari gen keturunan dan kebiasaan minum minuman kemasan. Oleh karena itu, pasca pengobatan ia menerapkan gaya hidup lebih sehat dengan mengurangi soft drink dan mie instan, sebagai bentuk menjaga diri. Namun, tantangan terbesarnya justru adalah rasa takut saat jadwal kontrol tahunan tiba.


"Pokoknya harus semangat, kita harus berpikir sehat dan semangat. Dengan semangat ini dapat mendukung yang lain, kita juga didukung yang lain,” pesan Rini kepada semua perempuan yang tengah berjuang melawan kanker payudara.


OLEH DEANISHA OKTAVIANI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS IEN (@STUDIOMAKEUPIEN) TATA RAMBUT ANTO (@ANTO_CIMPRING) BUSANA ERIDANI AKSESORI NJS GOLD


Mudita Yudianti, 59



(Mudita Yudianti, 59 tahun)


Mudita Yudianti mengawali kisahnya dengan penemuan benjolan yang sempat didiagnosa sebagai otot setelah pemeriksaan mammografi dan USG. Namun, seiring waktu benjolan tersebut terus membesar, hingga akhirnya pada Juli 2022, melalui biopsi, ia terdiagnosis kanker payudara jenis HER2 (+). Perjalanan pengobatan yang harus dilaluinya terbilang intens, mencakup delapan kali kemoterapi awal, operasi pengangkatan payudara, dan 30 kali radiasi.


Meskipun terasa berat, terutama pada sesi kemoterapi yang dilakukan setiap tiga minggu, Mudita memupuk semangat dari keinginan kuat untuk sembuh. "Itu awalnya saya merasa terasa berat, tapi saya ingin sembuh jadi saya harus ada semangat. Saya berusaha kuat dalam menjalaninya," ujarnya. Semangat ini didukung penuh oleh suami dan putrinya, serta komunitas penyintas di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Samudera Kasih, MRCC Siloam.


Setelah dinyatakan remisi dan menyelesaikan serangkaian treatment berat, termasuk 18 kali maintenance untuk jenis kankernya, Mudita berfokus pada gaya hidup sehat. Ia disiplin memilih makanan dan rutin berolahraga, termasuk jogging 5 km setiap hari demi menjaga imun. Tantangan terbesarnya kini bukanlah fisik, melainkan menjaga mental dari pikiran negatif, terutama saat mendengar kabar kurang baik dari sesama survivor. Ia memilih pasrah kepada Tuhan dan mengalihkannya dengan beraktivitas bersama komunitas.


"Jangan menjadikan kanker sebagai satu beban untuk diri kita. Jadi walaupun keadaan kita belum tahu seperti apa nantinya. Kita menjalani dengan penuh semangat, terus kuat, dan berusaha beraktivitas dengan baik setiap hari,” ungkap Mudita, menutup obrolan dengan Her World Indonesia.


OLEH DEANISHA OKTAVIANI FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS MAE (@MAELORAMAKEUP) BUSANA NILA BAHARUDDIN AKSESORI NJS GOLD


Fia Bunova, 44


(Fia Bunova, 44 tahun)


Ketika Fia Bunova merasakan benjolan di payudara kirinya pada Agustus 2019, ia langsung mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Satu bulan kemudian, diagnosis kanker payudara tipe HER2 positif stadium 2 resmi keluar. “Saya sudah ikhlas bahkan sebelum hasilnya keluar,” kenangnya. Dengan keteguhan hati, ia menjalani kemoterapi selama satu setengah tahun, diikuti operasi. Semua proses dilalui dengan ketenangan yang nyaris tak tergoyahkan, bahkan saat sang ibu justru lebih panik menghadapi kenyataan anaknya harus kehilangan rambut. “Saya yang justru menenangkan Mama,” ujarnya sambil tersenyum.


Kini, setelah dinyatakan sembuh pada 2021 dan rutin kontrol tiap tahun, Fia memaknai hidupnya dengan cara berbeda. Ia merasa diberi kesempatan kedua untuk hidup lebih bermakna, bukan sekadar untuk dirinya sendiri. “Setelah saya bisa survive, saya ingin bermanfaat untuk makhluk hidup lainnya,” katanya. Dari niat itu, lahirlah kebiasaannya memelihara dan merawat hewan jalanan. Kini, rumah Fia menjadi tempat aman bagi 16 anjing dan 9 kucing yang ia foster dengan penuh kasih.


Bagi Fia, perjuangan melawan kanker bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga menemukan kekuatan batin dan tujuan baru. Ia belajar bahwa kunci kesembuhan bukan hanya pada pengobatan, tapi juga kesiapan mental, dukungan orang terdekat, dan semangat untuk tetap menjalani hidup seperti biasa. “Kanker tidak seseram yang saya bayangkan. Justru dari sana, saya belajar berdamai, bersyukur, dan benar-benar hidup.”


OLEH KIKI RIAMA PRISKILA FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS DANIELLA KESYA (@DANIELLAKESYA) TATA RIAS RAMBUT VONY (@HAIRDOBYVONY) BUSANA JULIANTO AKSESORI NJS GOLD


Rosni Mangunsong, 67



(Rosni Mangunsong, 67 tahun)


Di tengah masa pandemi 2022, ketika dunia masih dipenuhi ketidakpastian, Rosni Mangunsong dihadapkan pada kabar yang mengubah hidupnya: kanker payudara. Semua bermula dari rasa nyeri di dada setelah mengenakan bustier saat latihan paduan suara. Di antara hiruk-pikuk menjaga anak yang sakit dan menjalani masa isolasi keluarga, Rosni tak menyangka bahwa tubuhnya sendiri sedang mengirimkan tanda bahaya.


“Tiga bulan pertama saya benar-benar denial, menangis terus. Saya bertanya pada Tuhan, ‘Kenapa saya?’” kenangnya. Namun dari titik rapuh itu, Rosni perlahan menemukan kekuatan baru melalui doa, dukungan keluarga, dan semangat teman-teman penyintas yang membuatnya kembali berani melangkah.


Setiap tahap pengobatan, dari mastektomi hingga radiasi, dijalani Rosni dengan penuh kesadaran dan sukacita. “Saya percaya, kalau kita pikirkan terus penyakitnya, justru akan membuat kita terpuruk,” ujarnya. Ia memilih untuk mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang memberi energi positif: memasak, berkebun, dan merawat anggrek yang kini tumbuh subur di rumahnya. Dukungan dua anak perempuannya menjadi sumber kekuatan utama. Si bungsu setia menemaninya ke rumah sakit setiap hari, sementara sang kakak menopang dari sisi lain dengan dukungan finansial. “Mereka berdua membuat saya tidak pernah merasa sendiri,” katanya penuh haru.


Kini, setelah dokter menyatakan tubuhnya bersih dari kanker, Rosni menjalani hidup dengan rasa syukur yang lebih dalam. Ia memperbaiki pola makan, menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran, serta mulai menjadi penyemangat bagi perempuan lain yang sedang berjuang. “Saya percaya Tuhan memberi ujian ini agar saya bisa menjadi lebih kuat, dan membantu orang lain yang sedang berjuang,” tuturnya lembut. Dari sakit yang dulu menakutkan, Rosni justru menemukan makna hidup yang lebih indah bahwa keberanian sejati lahir dari hati yang berserah dan tetap berbahagia di tengah badai.


OLEH KIKI RIAMA PRISKILA FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS DANIELLA KESYA (@DANIELLAKESYA) TATA RIAS RAMBUT VONY (@HAIRDOBYVONY) BUSANA BLZR.ID AKSESORI NJS GOLD


Edza Ferasari, 51



(Edza Ferasari, 51 tahun)


Tahun 2013 menjadi titik balik dalam hidup Edza Ferasari. Berawal dari benjolan kecil di ketiak kiri yang awalnya dikira hanya kelenjar biasa, pemeriksaan lanjutan justru mengungkap kenyataan pahit yaitu kanker payudara stadium 2B yang sudah menjalar. Setelah melalui operasi pengangkatan, kanker itu kembali muncul di sisi kanan. “Waktu dua-duanya diangkat, saya sempat merenung, ‘Salah saya apa ya?’ Tapi dokter bilang, ini genetik, jadi jangan berpikir negatif,” kenangnya. Sejak saat itu, Edza memilih untuk menjalani semuanya dengan penerimaan dan semangat hidup yang tinggi. Baginya, dukungan keluarga, terutama anak dan suami, adalah sumber kekuatan terbesar.


Meski tidak menjalani kemoterapi, perjuangan Edza tidak mudah. Setiap hari selama lima tahun ia harus disuntik hormon di bagian perut meninggalkan rasa sakit yang tidak pernah benar-benar hilang, tapi selalu ia hadapi dengan senyum. Ketika kanker menjalar ke rahim dan harus diangkat, ia kembali belajar untuk ikhlas. “Saya pikir, mungkin ini cara Tuhan menggugurkan dosa saya,” ujarnya pelan. Rasa minder sempat muncul, terutama saat berkaca atau berolahraga, tapi Edza memilih fokus pada hal yang lebih besar: kebahagiaan dan semangat untuk hidup.


Kini, setelah melewati lebih dari satu dekade perjuangan, Edza bukan hanya penyintas, tetapi juga sumber inspirasi bagi orang lain. Di kantor, ia dikenal sebagai sosok yang selalu menguatkan rekan-rekan yang menghadapi penyakit serupa. “Kalau kita sedih, kanker justru senang,” katanya sambil tertawa kecil. Ia percaya bahwa obat paling manjur bukan hanya dari resep dokter, melainkan dari hati yang bahagia, pikiran yang tenang, dan cinta yang tak pernah padam untuk keluarga dan kehidupan.


OLEH KIKI RIAMA PRISKILA FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS DANIELLA KESYA (@DANIELLAKESYA) TATA HIJAB KIKIE (@KIKIE_KHANSA) BUSANA BLZR.ID AKSESORI NJS GOLD



Wahyu Widiati, 46



(Wahyu Widiati, 46 tahun)


Tak pernah ada tanda-tanda, tak ada rasa sakit hingga satu malam, ketika anaknya yang masih kecil tertidur dan tanpa sengaja membentur dada, Wahyu Widiati menemukan benjolan di payudaranya. Dari hasil pemeriksaan di RSPAD, benjolan itu ternyata tumor ganas stadium awal. “Awalnya sempat stres, karena dalam keluarga tidak ada riwayat kanker,” ujarnya. Setelah berdiskusi dengan suami, ia memutuskan untuk menjalani operasi pengangkatan dan 25 kali terapi radiasi tanpa kemoterapi. Meski sempat merasa takut, Wahyu memilih untuk fokus pada hal yang bisa ia kendalikan yaitu pikirannya. “Dokter bilang, obatnya hanya satu, jangan terlalu dipengaruhi oleh pikiran,” katanya dengan senyum tenang.


Selama masa pengobatan yang berlangsung lima tahun, Wahyu belajar bahwa semangat dan ketenangan batin adalah bagian penting dari kesembuhan. Ia menjaga rutinitas konsultasi dan suntikan hormon bulanan dengan disiplin, sambil menanamkan keyakinan bahwa dirinya akan sehat kembali. “Saya selalu bilang ke orang, saya tidak sakit, saya hanya diberi rezeki kanker ini,” ucapnya mantap. Dukungan keluarga menjadi pondasi kuat, terutama saat suami dan anak-anak tak henti menyemangatinya untuk tetap berpikir positif.


Kini, setelah lima tahun dinyatakan sehat, Wahyu menjalani hidup dengan rasa syukur yang lebih dalam. Ia tahu bahwa tubuh dan pikiran bekerja selaras dalam proses pemulihan. Karena itu, pesannya untuk para perempuan lain begitu sederhana namun penuh makna untuk tidak takut, tidak menunda untuk memeriksakan diri, dan jangan pernah kehilangan semangat. “Kanker tidak semenakutkan yang dikira. Kita hanya perlu yakin, berserah, dan tetap berjuang karena hidup ini masih sangat indah untuk dijalani.”


OLEH KIKI RIAMA PRISKILA FOTO GUSTAMA PANDU DIGITAL IMAGING RAGHAMANYU HERLAMBANG PENGARAH GAYA EGA SEGARA TATA RIAS IEN (@STUDIOMAKEUPIEN) TATA HIJAB KIKIE (@KIKIE_KHANSA) BUSANA WILSEN WILLIM AKSESORI NJS GOLD



Woman Now